Licin, Basah, dan Mencekam: Malam Berbahaya di Jalanan Solo
"Hujan deras dan aroma solar menyelimuti jalanan Solo pada malam 31 Mei 2025, membuat setidaknya empat insiden tergelincir terjadi secara beruntun".
Oleh: Fikriyyah Luthfiatuzzahra
Solo, 31 Mei 2025 — Langit malam belum sempat mereda ketika tugas kampus saya selesai dikerjakan. Hujan deras mengguyur kota sejak sore hari, dan saya—seorang mahasiswa biasa yang baru hendak pulang—terjebak menanti reda. Baru sekitar pukul 8 malam, saya memberanikan diri mengendarai sepeda motor pulang ke rumah, menyusuri jalanan Solo yang basah dan gelap. Namun, perjalanan itu bukan sekadar pulang biasa. Malam itu ternyata menyimpan kisah menegangkan yang tidak akan saya lupakan.
Perjalanan dimulai dari kawasan Kartasura, di mana underpass Kartasura—biasanya padat, kini menjadi titik hening yang penuh tanya. Kendaraan melambat, nyaris berhenti. Ketika saya tiba di bawah underpass, terlihat seorang wanita paruh baya terduduk di pinggir jalan. Dua orang bapak-bapak tampak menjaganya. Saya sempat mendengar pasangan pengendara di samping saya berbincang, "Bar kepleset koyo'e, Pak," ucap sang istri. Wajah-wajah khawatir memenuhi ruang sempit jalan malam itu. Rupanya, jalan yang licin telah menjatuhkan korban pertama.
Tak jauh dari sana, baru saja keluar dari underpass, tepat di depan angkringan dekat STIE Surakarta dan Gedung Serbaguna Makam Haji, dua pengendara motor terjatuh hampir bersamaan. Mereka tidak bertabrakan, tapi terpeleset di titik yang sama. Satu pemotor hendak menyebrang dari arah berlawanan menuju sebuah angkringan, namun kehilangan kendali. Pengendara lain, yang terkejut dan mengerem mendadak, ikut tergelincir. Hujan membuat segalanya basah, dan kini mulai jelas bahwa aspal malam itu benar-benar berbahaya.
Perjalanan saya berlanjut ke daerah Pajang, arah Laweyan. Di depan SPBU Pajang, saya mencoba menyalip mobil dari sisi kiri. Namun, sepeda motor saya nyaris tergelincir. Untung saja kaki saya refleks menahan, sehingga tidak sampai jatuh. Rasa takut menyusup. Sejak itu, saya melaju pelan. Di belakang saya, suara pengendara lain menyusul, "Jalannya licin, hati-hati, Mbak," ucap mereka—ternyata pasangan yang tadi saya jumpai di underpass.
Namun malam belum selesai memperlihatkan bahayanya. Di persimpangan Laweyan, saat saya benar-benar fokus agar tak tergelincir lagi, terdengar suara keras, "Gubrak!" Seorang bapak-bapak jatuh dari motornya. Yang mengejutkan, ia jatuh saat lampu lalu lintas menyala hijau. Bukan saat berhenti, bukan saat mengerem, tetapi ketika mulai melaju. Beberapa pemuda yang ada di sekitar bangjo (lampu merah) segera membantu si bapak yang tampak terpukul oleh kejadian itu.
Di tengah kekacauan itu, saya mencium bau menyengat—bau solar. Jalanan Solo malam itu tidak hanya disiram hujan, tapi juga kemungkinan tercemar cairan licin seperti solar atau oli. Kombinasi ini sangat mungkin menjadi penyebab mengapa setidaknya empat kejadian terpeleset dan jatuh terjadi hanya dalam satu malam di jalur yang saya lalui. Membuat perjalanan saya yang seharusnya bisa ditempuh hanya sekitar 30 menit perjalanan, malam itu perjalanan saya menjadi lebih lama, hampir satu jam dan tepat pada pukul 21.00 WIB saya baru sampai dirumah.
Jalanan adalah cermin cuaca dan kelalaian manusia. Malam itu, Solo berubah menjadi arena penuh risiko. Hujan deras memang tak bisa dikendalikan, tapi kebocoran solar, tidak adanya peringatan jalan licin, dan minimnya pencahayaan bisa dicegah. Semoga kisah malam itu menjadi pengingat bagi kita semua: untuk lebih waspada, lebih peduli, dan tidak meremehkan kondisi jalan basah.
Karena kadang, pulang ke rumah pun bisa menjadi perjalanan yang nyaris tak kembali.
Comments
Post a Comment